Oleh
Aris Munandar Alfatah
Pendahuluan.
Pertempuran Antara Yahudi Israel dengan bangsa palistina sudah berlangsung berpuluh puluh tahun, setiap kali pertempuran itu terjadi ada sikap reaksioner yang di tunjukkan oleh kaum muslimin di Dunia, sikap itu tentu saja wajar, jangankan kita sebagai sesame muslim, orang yang sesama kafir saja merasa kegerahan dengan kekejaman Israel kepada sesama manusia, kita bisa melihat pada peristiwa terakhir dari kebiadapan Israel terhadap bangsa palestina. Maka semua orang di belahan dunia2 bertetiak mengutuk termasuk yang mengutuk itu sesame kafir seperti Venezwela dengan mengusir duta besar Israel, Bolivia, Amerika latin yang menutup akses diplomat bagi negeri kejam itu.
Umat islam dan Negara Negara Islam didalam mensikapi agresi militer Israel, sudah bisa kita tebak terlebih dahulu. Yaitu mengutuk agresi tersebut, membakar bendera Israel sebagai lampiasan atas kemurkaan, mengadakan aksi teatrikal dengan memukul mukul kawan kawan sendiri yang di ibaratkan sebagai serdadu Israel atau perdana menteri Israel sebagai ungkapan kekesalan, atau mengadakan penggalangan dana kemanusiaan dengan menyediakan bahan makanan dan obat obatan serta mengirim tenaga medis dan relawan kemanusiaan ( itupun tidak bisa masuk) ke wilayah konflik, atau mengadakan pendaftaran mujahidin untuk berjihad ke palistina mempertahankan daerah tersebut. yang pada akhernya sebatas daftar list calon mujahid yang mau berangkat ke Palistina tidak ada satupun yang bisa masuk ke dalam wilayah Israel karena terhalang oleh system ( baik visa maupun politik negeri kaum muslimin setempat) yang tidak memperkenankan untuk berangkat berjihad. Atau keperpihakan kepada palistina diwujudkan dengan Istighotsah, dhzikir bersama tapi Israel yang membantai jalan terus.
Bahkan dalam mengambil sikap terhadap kekejaman Bangsa Israel Negara Negara “Islam” justru mengambil sikap diam dengan menutup perbatasannya dengan Israel di tengah pembataian terhadap saudaranya sesama muslim, seperti yang di lakukan oleh Mesir. Atau diam seribu bahasa seperti Saudi tidak berbuat sedikitpun dengan dan tidak mau menggunakan minyaknya untuk menekan Israel. Pemerintah Saudi sebatas mengutuk dan mengirim 1 milyard juta Dolar untuk bangsa Palestina. Atau seperti Negara Indonesia yang juga sekedar mengutuk dan memberikan obat obatan, dimana keberpihakan seperti itu layaknya di lakukan oleh lembaga sekelas LSM dan bukan suatu Negara yang memiliki kekuatan.
Sikap sikap itulah yang patut di sayangkan bagi umat Islam, pantas sikap mandul umat islam dan Negara “Islam” itu di ejek oleh perdana menteri Israel dengan sinisnya dia mengatakan: “biarkan saja umat islam membakar bendera kami, mendemo kedutaan kami, sebentar lagi akan lupa3. Sementara kami membantai jalan terus
Kekejaman Israel itu menjadi jadi ketika Negara Super Power Amerika serikat memberikan Green light atas penyerangan tersebut, dimana Israel selama ini menjadi anak emasnya. Standart ganda di perlakukan untuk Israel. Bila 3 orang (baca ekor) orang barat yang mati tertembak tidak sengaja di Atambua NTT maka Amerika mengeluarkan Sikapnya untuk memblokade persenjataan kepada bangsa Indonesia karena melanggar hak asasi manusia, sementara Israel yang sudah membunuh Ribuan orang tidak mendapat sangsi apapun bahkan dibela bela bisa memaklumi karena Israel sedang membela diri, di back up dengan Hak Vetonya di PBB, sehingga setiap Resolosi untuk Israel selalu dimandulkan dengan hak VETOnya, paling tidak Ubstain seperti Resolusi terakhir PBB terhadap Islarel atas Agresi ke palestina.
Apakah Umat islam akan ditipu sandiwara ini terus, apakah umat Islam akan melakukan pembiaran pembantaian ini terus, apakah umat Islam akan akan masuk keliang yang sama berpuluh kali bukan hanya dua kali? Semua pertanyaan ini jawabanya adalah wajib bagi umat Islam untuk I’adatu Nadhor ( merumuskan kembali sikap dan perannya dalam menghadapi Yahudi Israel. Atau setiap kali ada pembantaian kaum muslimin oleh Israel kita bersikap Reaksioner yang berlebihan seperti membunuh orang kafir di negeri kita, mendemo kedutaan Amerika, Mesir, dll, atau kita berseteru sendiri dengan aparat kita dan membikin kekacauan di negeri kita sekarang ini, sementara Israel berlenggang kangkung membantai umat Islam tanpa kenal ampun.
Pengertian Istilah
I’adatu Nadhor atau yang mudah di kenal adalah merumuskan kembali atau melakukan pembaharuan dalam bersikap kepada Yahudi bukan berarti kita melakukan pembaharuan dalam Agama ini berkait dengan sikap kepada yahudi namun sebaliknya justru mengembalikan kepada ajaran agama, alqur’an dan Al Hadits dalam bersikap terhadap kekafiran khususnya Yahudi.
Yang di maksud dengan pembaharuan atau I’angadatu nadhor adalah menjadikan sesuatu itu baru sedangkan secara istilah adalah mengembalikan pandangannya , menghidupkannya, serta menyesuaikannya dengan sunnah Islam, maka maksud dari pembaharuan bukan merubah hakekat yang telah ada yang di bangun oleh Islam melainkan mengembalikan kepada keasliannya kembali.
Sedangkan Yahudi adalah bangsa yang telah ditutunkan padanya banyak nabi, umat nabi Musa dan Nabi nabi yang lain.
Alqur’an berbicara tetang Yahudi.4
Untuk merumuskan sikap kepada Yahudi terlebih dahulu kita mengenal tentang Yahudi menurut pandangan Al Qur’an.
1.Orang Yahudi itu berlaku sombong dan membuat kerusakan.
وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا (4) [الإسراء/4]
Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali.
2.Membunuh para nabi nabi.(Annisa’ : 157)
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) [النساء/157]
3.Bangsa yahudi adalah orang yang paling keras permusuhannya kepada umat islam (Al Maidah : 82)
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (82) [المائدة/82]
4.Bangsa yang mendapatkan kemurkaan dan kebencian Allah (Al An’an 112)
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (112) [آل عمران/112]
5.Bangsa yang terbiasa berbuat dosa,
6.Bangsa yang mendapatkan laknat karena maksiat dan melampoi batas (Al Maidah ayat 78)
لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79) [المائدة/78-80]
7.Bangsa yang selalu menumbuhkan kebencian dan permusuhan (AlMaidah 64)
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (64) [المائدة/64]
8.Tidak memiliki negeri. Dan hanya bisa dikalahkan dengan hujjah dan senjata. (Ali Imran 55)
إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (55) [آل عمران/55]
Berkata dalam tafsier jalalain yang di maksud dengan orang kafir diayat ini adalah Yahudi. Mereka akan dikalahkan dengan Hujjah dan Senjata.
Cara Alqur’an menghadapi orang Yahudi.
Sudah saatnya umat Islam merumuskan kembali (I’adatu nadhoh) dalam menghadapi serangan dan kekejaman orang Yahudi, sebab semua pola menghadapi Yahudi yang sekarang dilakukan oleh umat Islam cenderung reaksioner dan hanya berpola mematikan api dan tidak mematikan sumber apinya.
Satu-satunya jalan adalah mengembalikan cara perlawanan tersebut kepada apa yang dituntunkan Al Qur’an dimana cara itu telah dijustifikasi oleh Allah sebagai cara yang terbaik.
Secara umum pola menghadapi orang kafir yang sudah memiliki kekuatan (dzatasaukatin) ada 4 perencanaan yang mesti dilakukan.
1.Mengembalikan aqidah wala’ wal bara’ yang benar sesuai tuntutan Al Qur’an khususnya bara’ kepada Yahudi dan kepada orang kafir pada umumnya.
2.Menghadapi Yahudi dan orang kafir pada umumnya dengan mengembalikan pada konsep jihad yang sebenarnya sebagaimana telah ditegakkan oleh Rasulullah saw.
3.Melakukan I’tad (persiapan secara menyeluruh) di tengah jatuhnya perintah jihad karena kaum muslimin sedang dalam keadaan lemah.
4.Membangun persatuan dan kesatuan shof di tengah perselisihan umat.
Mengembalikan Aqidah Wala’ Wal Bara’
Aqidah ini merupakan inti dari ajaran Islam, pokok dari pokok masalah dalam Islam yang kini banyak diabaikan atau dilupakan oleh kaum muslimin.berbicara tentang wala’ wal bara’ maka sesungguhnya tentang mengembalikan aqidah tauhid yang menjadi konsekwensi dari kalimat tauhid, dimana kalimat tauhid yang agung ini dengan segala pemahamannya dan tututannya kini telah lenyap dari kaum muslimin kecuali yang dirahmati Allah. Diantara pemahaman-pemahaman itu bahkan yang paling pentingnya dalam persoalannya ini adalah wala’ wal bara’. Walaupun pemahaman aqidah wala’ wal bara’ ini kini telah lenyap dari kehidupan kaum muslimin (kecuali yang dirahmati Allah) maka sesungguhnya hal itu tidak merubah dari hakikatnya sedikitpun. Yang demikian itu dikarenakan bahwa al wala’ wal bara’ keduanya merupakan potret secara amali untuk menerapkan secara realita bagi aqidah tauhid itu. Dia merupakan pemahaman yang besar di tengah kaum muslimin dengan kadar besar dan keagungannya itu sebagaimana pentingnya aqidah di dalam diri seseorang.5
Berkata Said al Qohtoni, “ Sekali-kali kalimat tauhid tidak akan terealisir di muka bumi kecuali dengan cara merealisasikan wala’ bagi yang berhak mendapatkan wala’ wal bara’ bagi yang berhak mendapatkan bara’.
Berkata As Syeikh Khamdi bin ‘Atiq ra.: “Sesungguhnya tidak ada di dalam kitab Allah Ta’ala suatu hukum yang dalil-dalilnya itu lebih banyak dan lebih jelas daripada hukum ini (al wala’ wal bara’) setelah wajibnya tauhid dan haramnya lawannya tauhid.6
Umat Islam di masa yang lalu telah memimpin manusia dalam masa yang panjang dimana pada masa itu berkembanglah aqidah ini diseantero alam ini dengan aqidah ini pula mampu mengeluarkan manusia dari penghambaan hamba kepada hamba kepada penghambaan hamba kepada Rabb-nya hamba, dan dari kesempitan dunia kepada luasnya dunia dan akhirat.7
Sikap bara’ terhadap Yahudi khusunya dan kepada orang kafir pada umumnya telah diterangkan oleh Allah pada ayat-ayat yang jelas, seperti yang tertera di dalam surat Al Maidah:51.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51) [المائدة/51]
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.8
Dalam laranganya kepada orang mukmin untuk wala’ kepada orang kafir yang lebih umum tidak hanya kepada Yahudi Allah mengingatkan pada surat Ali Imran: 118
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآَيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ (118) هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آَمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (119) [آل عمران/118، 119]
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.
Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu." Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.
Kata “Bithonah” dalam ayat di atas adalah mereka orang orang yang di istimewakan dalam lingkar keluarga yang mengetahui tentang urusan urusan di dalam keluarga itu. Atau lebih mudahnya di sebut orang dalam yang kita titipkan semua urusan kita kepadanya. 9
Bersabda RAsulullah SAW.
“janganlah kalian minta diterangi oleh cahaya kesyirikan dan janganlah kalian meminta petunjuk dan pengarahan kepada orang orang musrik. 10
Ayat ini Allah juga membeberkan watak asli orang kafir,11 dan besaran permusuhan yang mereka masih sembunyikan. Demikian Ibnu katsir menerangkan ayat itu bahwa sikap yang muncul yang bisa di lihat saat ini sudah memperlihatkan permusuhan dan kebencian, dan yang terexpose saat ini permusuhan yang berskala kecil. Allah memberitahu rencana jahad dan perpusuhan yang berskala besar masih di sembunyikan. 12
Menghadapi Yahudi dengan konsep Jihad Rasulullah.13
Melihat watak yahudi yang keras kepala, dan suka berkhianat, membikir onar dan kerusuhan, seperti dipaparkan Allah dalam ayat ayat di atas maka sikap Rasulullah dalam menghadapi Yahudi dengan Jihad menjadi solusinya.
Terlenbih umat saat ini tidak lagi diperhitungkan dimata musuh, dan telah hilang dari mush rasa takut kepada umat ini maka Rasulullah mengingatkan untuk menaikan harkat itu dengan menegakkan konsepsi jihad dengan segala tahapan tahapannya. Rasulullah bersabda:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جَابِرٍ حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ السَّلَامِ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
Hampir tiba masanya umat umat lain mengerumuni kalian sebagaimana sekelompok orang rakus mengerumuni hidangan,. Seseorang bertanya, apakah itu disebabkan karena jumlah kami sedikit? Beliau menjawab: bahkan jumplah kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian seperti buih yang dibawa oleh air yang mengalirgalir. Dan Allah mencabut Rasa takut dari dada-dada musuh kalian terhadap Islam . dan Allah akan melemparkan pada hati kalian penyakit Wahn.” Seseorang bertanya; Wahai Rasulullah, apakah penyakit wahn itu ? beliau menjawab: cinta Dunia dan takut mati.14
Dalam Abu dawud, cintanya kalian kepada dunia dan takutnya kalian dengan perang.15
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ 16
Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, apabila kalian berjuan beli dengan “inah dan kalian mengambil ekor sapi, serta sudah ridho dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad maka Allah menimpakan kehinaan kepada kalian, yang tidak akan di cabut kehinaan itu sampai kembali kepada agama kalian. 17
apabila kalian lebih suka dengan perdagangan yang mengandung riba,dan engkau lebih suka dengan beternak kamu lebih suka dengan cocok tanan, lalu kalian tinggalkan jihad maka Allah akan kuasakan kepada kalian kehinaan, tidak akan terlepas sehingga kembali kepada Agama kalian.
Kesimpulan hadits di atas adalah untuk keluar dari keterpurukan dan kehinaan Rasulullah memberikan arahannya untuk : menjauhkan dari terlilit kepentingan dunia, kembali kepada agama dan menegakkan jihad.
Bagaimana jihad di saat lemah?
Konsep jihad ini tidak serta merta bisa di laksanakan saat ini juga, dalam pelaksanaan jihad mengacu kepada Dhuruf, wal amkinah wal azminah ( keadaan saat itu, peluang, dan zaman yang sedang kita hadapi)18
Ibnu Taimiyyah dalam majmu’ul fatawa mengingatkan kepada kaum muslim ttg jihad (fisik) di saat lemah:
ومن كان فى حالة الضعف فاليعمل بأية الصبر فى وقت سقوت الجهاد لضعف فاليستعدّ
Barang siapa dalam keadaan lemah hendaklah dia mengamalkan ayat ayat kesabaran, dan disaat jatuhnya perintah jihad karena lemah hendaklah mempersiapkan diri.
Maka jihad itu ada fase fasenya tidak diperkenankan untuk menguggunakan ayat ayat jihad dalamkeadaan lemah.
Melakukan I’tad (persiapan dan perencanaan secara menyeluruh)
Menghadapi orang Yahudi saat ini terkesan Reaksioner, parsial, tidak terprogan dalam perencanaan perencanaan sebagaimana Rasulullah merencanakanya. Kita bisa belajar kepada Rasulullah tentang mensikapi atas pembantaian keluarga Yasir di makah. Lontaran ucapan yang di sampaikan Nabi sebagai bentuk kepedulian simpati dan Impati RAsulullah kepada keluarga Yasir. Tapi kondisi saat itu yang bisa dilakukan oleh Rasulullah sekedar mengucapkan: “Sobron Ala Yasier fa inna mau’idakumul jannah”.
Kata kata itu sekilas memperlihatkan bahwa pembelaan Rasulullah sebatas mendoakan, tidak sampai menggunakan fisik untuk membelanya. Kita katakana bahwa ini merupakan kata kata kesatria, kata kata sang panglima yang memiliki perencanaan yang matang sehingga tidak mau terendus perencanaan itu sebelum waktunya.
Perbedaannya dengan umat saat ini adalah kalau Rasulullah tidak Reaksioner dan tidak meledak ledak lalu mempersiapkan dan merencanakan untuk melawan para pembunuh yasir itu pada masanya yang tepat, sementara kita setiap kali ada pembantaiaan kaum muslimin oleh Yahudi dari dulu hingga sekarang tidak berobah, yang bisa di lakukan adalah mengutuk, mengumpulkan pakaian pantas paka, obat obatan, dan sisi kemanusiaan yang lain. Sesungguhnya penyelesaikan seperti ini adalah penyelesaian yang tidak menyelesaikan masalah. Kaum muslimin harus mengembalikan pola penyelesaiannya seperti yang di lakukan oleh Rasulullah yaitu dengan “kesabaran” di saat lemah dan mempersiapkan diri (I’dad) di saat lemah untuk kemudian melakukan jihad di saat yang tepat. Dengan meletakkan perencanaan perencanaan yang jelas.
Didalam Al Qur’an selain Allah memerintahkan jihad juga memerintahkan I’dad ( mempersiapkan):
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ (60) [الأنفال/60]
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).
Kata “Quwwah” didalam ayat tersebut adalah ditulis dalam bentuk nakirah berarti “yufidhul Umum” maknanya adalah kekuatan apa saja yang harus di persiapkan untuk melewan musuh musuh Allah. Lebih lanjut Muhammad Shunthut dalam buku Almuslimun wa Attarbiyyah Al Askariyah menyebutkan.
Bahwa kekuatan yang haurus di persiapkn kamum muslimin saat ini adalah: 19
1.Kekuatan Aqidah
2.Kekuatan Ruhiyyah
3.Leluatan Al fikriyah
4.Kekuatan Akhlak
5.Kekuatan Jasad
6.Kekuatan Iqthishodiyyah.
7.Kekuatan Al Ijtima’iyyah
Secara khusus Rasulullah menafsierkan kata Al Quwwah” dalam ayat di atas dengan mensabdakan:
صحيح مسلم - (ج 10 / ص 32(
عَنْ أَبِي عَلِيٍّ ثُمَامَةَ بْنِ شُفَيٍّ أَنَّهُ سَمِعَ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ يَقُولُا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ{ وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ }أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ
Dari Abi Ali Stumamah bin Syuqoyya bahwasanya dia mendengar Uqbah bin ‘Amir keduanya berkata: aku mendengar Rasulullah bersabda ( saat itu sedang berada di mimbar) : dan persiapkan olehmu apa saja dari kekuatan. “ ketahuilah kekuatan itu memanah, kekuatan itu memanah dan kekuatan itu memanah. 20
Menurut Abdullah Azzam dalam bukunya Al I’dad wal jihad. Beliau mengomentari hadits di atas dengan mengatakan: ini merupakan bisyarah Nubuwwah bahwa penyebutan Arromyu dan bukan Asyaifu adalah mengingatkan bahwa persenjataan di masa mendatang menggunakan system kerja Arromyu “ Balistik” senjata di lemparkan (Romyu) dari satu tempat ke tempat yang lain. 21
Allah juga mengingatkan bahayanya umat islam terlena dari senjata dan financial:
وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً [النساء/102]
Hendaklah mereka mengambil kewaspadaan dan senjatanya, orang orang kafir itu suka sekiranya kalian lalai dari senjata senjata kalian yang dengan itu kalian akan dikalahkan dengan sekali langkah saja.22
Dalam tafsier Taisir Al kariem Arrahmaan:
Dan persiapkan bagi orang kafier yang berupaya untuk menghancurkan kamu, dan meniadakan agamamu, apa saja yang kalian mampu dari kekuatan akal maupun jasad dan berbagai macam Al Aslihah dan yang lainnya. Yang demikian itu yang bisa membantu kepada peperangan , masuk dalam kategori ini adalah berbagai macam Pabrik yang memproduksi berbagai macam persenjataan, alat alat altileri maupun peluru,pistol, pesawat, dan berbagai macam kendaraan darat maupun laut, alat pembelaan, pemikiran, politik yang dengannya untuk memajukan kaum muslimin. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda: “ bukankah kekuatan itu memanah 3 x).23
Oleh karena itu maka I’dad jihad mengandung dua hal pokok. Yaitu mempersiapkan orang dan peralatan. Memprsiapkan orang lebih didahulukan daripada mempersiapkan perbekalan.24
Membangun persatuan ditengah perselisihan Umat
Peristiwa yang menimpa umat Islam akibat tidak adanya kepemimpinan di tengah mereka makin menjadi jadi hal itu dapat di rasakan semenjak tidak ada lagi kekhilafahan dimuka bumi, yang ada adalah kepemimpinan kelompok kecil dan Negara Negara kecil.
Sesungghnya termasuk penyakit yang paling berbahaya, dan yang paling memukul umat saat ini adalah perselisihan dan perbedaan.25 Oleh karena itu Allah telah mengingatkan, dan benar benar melarang, serta menerangkan risiko yang akan diakibatkan dari perpecahan ini.
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (46) [الأنفال/46]
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103 [آل عمران/103]
Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud yang dimaksud bi hablillah adalah : Al Jama’ah.
Berkata Qurthubi: maknanya saling berdekatan sesungguhnya Allah memerintahkan untuk menyatukan hati (antar sesama) dan melarang untuk berpecah belah. Karena berfirqoh merusak. Sedang berjamaah menyelamatkan26
Berkata Al Jashos: dia merupaka perintah untuk berkumpul, dan melarang untuk berpecah belah. Mereka diperintahkan untuk berjamaah.27
Bagaimana berjamaah di tengah banyaknya Jamaah?
Tidak dielakkan lagi bahwa realitanya saat ini adalah banyaknya kelompok kelompok atau jamaah jamaah yang menginginkan tegakkanya kebenaran dengan cara pandang masing masing. Kata Yusuf Qordhowi yang benar adalah bahwasanya perbedaan itu tidak membahayakan, selagi masihdalam persoalan persoalan furu’ atau pokok pokok agama yang tidak penting, akan tetapi bahayanya adalah bila mana mereka berpecah dan bermusuhan yang itu dilarang oleh Allah.28
Yang terpenting saat ini adalah umat islam mengerti bagaimana etika berbeda bendapat dan melakukan skala prioritas kerja terhadap persoalan umat yang paling besar. Yaitu :
Menyibukkanya seorang muslim dengan urusan urusan umatnya yang dianggap besar.
a.Keterbelakangan ilmu dan tehnologi an modernitas
b.Kedholiman dalam sosial dan ekonomi
c.Dikuasai musuh dari sisi politik
d.Terjadi westernisasi dan ghozwul fikri
e.Invasi Pencaplokan negeri Islam oleh zionis
f.Terpecahnya negara negara arab
g.Terjadi dekadensi moral29
Prinsip prinsip membangun persatuan di tengah perbedaan dalam (Fiqhu ikhtilaf. )
1.Perbedaan dalam furu’ merupakan kebutuhan, rahmat dan keleluasaan.
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (118) إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (119)هود
2.Menahan diri dari siapa yang telah mengucapkan “LAILAAHA ILLA ALLAH”.
صحيح البخاري - (ج 1 / ص 42)
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
المعجم الكبير للطبراني - (ج 10 / ص 415)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:كُفُّوا عَنْ أَهْلِ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ لا تُكَفِّرُوهُمْ بِذَنْبٍ , فَمَنْ أَكْفَرَ أَهْلَ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ فَهُوَ إِلَى الْكُفْرِ أَقْرَبُ.
3.Mengkuti Manhaj “Al Washt” dan menjauhi sifat “Tanattu’ dalam agama.
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 153) الأنعام
4.Memfokuskan pada ketetapan yang Muhkamat dan bukan yang Mutasyabihat.
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ (7) ال عمران
5.Bekerjasama dalam hal yang disepakati dan bertoleran dalam perbedaan.30.31
Penutup
Sebenarnya pembahasan terhadap prinsip pinsip perjuangan melawan Yahudi ini merupakan pembahasan luas, keterbatasan waktu dan data saja yang membatasi kajian ini di cukupkan sampai sekian. Semoga orang lain bisa memperluas bahasan ini dan menjadikannya acuan dasar untuk merubah tehnik menghadapi zionis Israel. Segala kebaikan milik Allah Semata. Kekurangan ada penulis.
Referensy
1.DR. Ali bin Nafi’ Al ‘ulyani, Ahammaiyatul Jihad fi nasri Da’wah al Islamiyah wa Raddi ‘Ala Thowaif Aholah fieh. Cet II thn 1995
2.DR. Muhamad Sayyid Yusuf , manhajul Islam fi Islahi Mujtama’. Daarul Islam cet II, 2002
3.Ahmad bin Ibrahiem Ibnu Nuhas Addimasyqi Addimymati, Masyari’ul ASwaq ila mashori’ul Usyaq fie fadhoilil jihad.Daarul Ulum li nasri wa Tauzi’. Amman
4.Abdul Hamid Hindary, Diroosat haula Al Jamaah wal Jamaa’at, Daaru Ta’shil wa maktabatu Attau’iyyah, cet I.
5.DR. Abdullah Azzam, Hukmul Amal fie Jama’atin wal Amru bil ma’ruf nahya anil Mungkar, Al Jailu Al Jadid, Dar Ibnu Hazm, cet 1992.
6. Imam Qurthubi, Tafsier Al qurthubi.
7.DR. Ali Juraisyah wa Kholid Ahmad Syantut, Almuslimun wa Attarbiyyah Al Askariyah. 1989 / 1409.
8.DR. Yusuf Qordhowi, Ashohwah Al Islamiyah bainal Al Ikhtilaful Masyru’ wa tafarruqi Madzmum, , muassasah Arrisalah cet I 1990/1411.
9.Markas Addirosah wal Bukhuts Al Islamiyah, Al Amal Al Islami baina Dawa’I Al Ijtima’ wa Du’ati Niza’ . sambutan buku ini oleh Usamah bin ladin.
Posting Komentar