Telah tersurat dalam Al Qur’an dan Sunnah, bahwa ummat Islam adalah ummat yang akan menjadi saksi bagi generasi sebelumnya. Juga saksi bagi semua manusia. Karena itulah, amatlah pantas kita menyandang predikat ummat pertengahan. Pantas juga kita menyandang predikat ummat terbaik, ummat yang beruntung, ummat yang diridhoi.
Masih banyak lagi predikat yang melekat pada diri kita, ummat Islam. Namun predikat itu bukan untuk membuat kita tinggi hati. Predikat itu adalah ujian untuk kita. Beban bagi kelangsungan kita sebagai manusia.
Sebagai ummat Muhammad SAW yang akan menjadi saksi pada hari kiamat, kita perlu tahu tentang perjalanan generasi sebelum kita. Generasi Ashabul Kahfi yang terasing demi sebuah kebenaran. Generasi Pasukan Badar yang gagah berani. Juga generasi shalafussalih lainnya. Bahkan tak hanya itu, untuk dapat menjadi saksi yang jujur, kita perlu pula merasakan perjalanan ruhiyah mereka. Kita patut ikut merasakan kerasnya perjalanan dakwah dan jihadnya, untuk kemenangan Islam.
Sebagai ummat terbaik, itu jelas digambarkan Allah dalam firman-Nya:
“Kamu (ummat Islam) adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110)
Sebagai ummat yang beruntung, Allah juga telah mengisyaratkan:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.“ (QS Ali Imran: 104)
Kita sebagai ummat Islam juga merupakan satu-satunya ummat yang diridhoi. Innaddiina ‘indallahil islaam. Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam. Bagaimana mungkin kita tidak diridhoi-Nya, sementara kita sudah berikrar masuk Islam? Tiada ilaah yang berhak disembah kecuali Allah semata!
Predikat kita sebagai ummat Islam yang sedemikian banyaknya itu menuntut kita untuk senantiasa mengabdi kepada-Nya. Bahkan tak cukup pengabdian itu hanya dengan sholat lima waktu sehari semalam dan puasa di bulan Ramadhan. Ummat Islam terlahir untuk berjihad.
“Ketika banyak orang mengaku cinta kepada Allah, maka mereka diminta menunjukkan bukti atas keseriusan cintanya itu. Jika semua orang diterima alasannya, maka boleh jadi orang yang tidak memiliki apa-apa akan mengaku bahwa kain yang sobek-sobek adalah miliknya.”
Maka ummat ini terlahir untuk berjihad. Dengan apa? Dengan harta, dengan ilmu, dengan jiwa, dengan nyawa, dengan apa saja. Islam tidak meminta yang buruk darimu. Tapi ia meminta yang terbaik darimu. Islam minta masa mudamu daripada masa tuamu. Islam minta kekayaanmu daripada miskinmu. Islam minta cinta murnimu, bukan cinta palsumu. Islam minta yang terbaik darimu, sebab ia juga adalah yang terbaik diberikan dari Allah untukmu.
Wahai ikhwah fillah, berjihadlah.
Karena Rasulullah SAW telah bersabda:
“Pagi dan siang hari di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia seisinya.” (Muttafaq ‘alaih)
Dr. Abdullah Azzam berpesan agar kita ummat Islam senantiasa mengobarkan jihad di dada. Apalagi ketika negeri kita diserang oleh kafir asing. Maka penduduk negeri itu wajib berjihad. Dan bila penduduk negeri tersebut tetap bersantai-santai di kursinya, maka penduduk negeri sekitarnya wajib memnuhi perintah jihad. Dan bila penduduk negeri sekitarnya pun tetap tidak tergerak untuk berjihad, maka siapapun penduduk di dunia yang sadar sepenuhnya akan panggilan suci itu, wajib baginya berjihad.
Allah berfirman:
Katakanlah: “Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya, atau (azab) dengan tangan kami. Sebab itu, tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu.” (QS At Taubah: 52)
Sahabat, ajal manusia sudah ditentukan oleh-Nya. Jihad dan dakwah tidak akan bisa mempercepat ajal. Demikian pula, duduk diam tanpa melakukan apapun juga tidak bisa melambatkan ajal.
Setiap manusia punya jatah waktu yang sama. Semua punya waktu dua puluh empat jam sehari. Dalam dua puluh empat jam itu, ada yang bisa menghasilkan karya yang besar. Namun ada juga yang tidak bisa menghasilkan karya apa-apa, bahkan merasa kurang dalam mencari dunia.
Imam syahid Hasan Al-Banna berkata: “Kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang tersedia.”
Seandainya semua ummat tahu dan sadar akan kewajibannya, tak akan ada istilah waktu luang baginya. Setiap detik akan sangat berharga baginya. Sebab dalam satu detik itu, ia bisa menyeru manusia kepada kebaikan. Dan itu termasuk jihad. Dalam satu detik kita bisa menyingkirkan duri di jalan, dan itu termasuk jihad. Bahkan dalam satu detik, kita bisa menghajar habis pasukan Yahudi Israel. Dan itulah jihad!
“Dan sungguh, kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) daripada harta rampasan yang mereka kumpulkan.” (QS Ali Imran: 157)
Lantas mengapa kita masih merasa resah? Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan amal kita, sedikit apapun itu. Allahu ghoyatuna, Ar Rasulu qudwatuna, Al jihadussabiluna, Al Mautu fissabilillahi asma amanina.
ALLAHU AKBAR!!!
Posting Komentar