PesMa_IC
Sejenak bersama dalam Da'wah Ilahiyah

menjadi lilin atau mentari


Kita telah berikrar menjadi pejuang aqidah. Kita telah berikrar untuk menjadi pejuang dakwah. Kita telah berikrar menjadi pencari syahid.

Tapi apakah kita sudah berpikir akan menjadi apa kita di dalam kafilah dakwah?

Pernahkah kita berpikir, apa yang akan kita lakukan di barisan tersebut?

Atau setidaknya, pernahkah kita memikirkan posisi seperti apa yang akan kita ambil bila kita terlibat dalam kegiatan dakwah?

Sayang, kita kadang lupa betapa pentingnya pemikiran tersebut. Kadang kita terlibat dakwah sekedar ikut arus. Kita lakukan semuanya untuk dakwah. Kita korbankan semuanya untuk dakwah. Kita menjadi lilin yang senantiasa menerangi sekitar. Tapi kita lupa, bahwa suatu saat akan datang saatnya lilin tersebut habis dan leleh. Kita melupakan perbaikan pribadi demi perbaikan lingkungan kita. Salahkah?

Tentu tidak mutlak salah. Medan dakwah memanglah penuh pengorbanan. Tapi perbaikan diri juga merupakan keniscayaan kita. Iman kita seringkali mengalami fluktuasi, tidak tetap. Kadang di atas, kadang di bawah. Dan ketika di bawah itulah, meskipun kita aktif (bahkan SANGAT aktif) terlibat dalam dakwah, kita tetap mengalami kejenuhan. Kefuturan iman adalah hal yang biasa. Namun itu bisa disikapi dengan senantiasa melakukan perbaikan terus-menerus. Sama halnya seperti Rasulullah ketika berdakwah. Beliau juga sering merenung sendiri. Beliau tak lupa muhasabah diri. Tujuannya agar beliau selalu bisa memperbaiki dirinya. Karena islah (perbaikan) ummat akan terjadi seiring dengan islah pribadi.

Sebagaimana lilin yang meleleh, diri kita pun akan mengalami kefuturan. Cahayanya pun akan padam sedikit demi sedikit, hingga akhirnya mati tanpa arti. Hanya gumpalan sisa yang tiada berguna lagi yang ada pada lilin tersebut. Akankah kita juga seperti itu dalam dakwah?

Sebaliknya, mentari pun senantiasa menyinari dengan kemegahannya. Memberi terang kepada siapa saja. Namun ia tidak mengalami pengurangan sinar sedikit pun. Walaupun memang, kadang mentari juga tertutup mendung gelap, namun ia tetap akan kembali cerah semula. Begitu pun dalam dakwah, kadang tertutup dengan berbagai kegelapan. Namun tetap akan cerah kembali pada hari atau masa berikutnya.

Maka hendaklah sekarang kita lakukan pemilihan posisi. Apakah kita akan memilih menjadi lilin ataukah mentari dalam medan dakwah?

Semua pilihan ada resikonya. Dan sudah sepantasnya bila kita berusaha meminimalisir resiko yang buruk. Wallahu a’lam.
0 komentar:

Posting Komentar

Recent Comments

تقويم الهجري

jam piro kang?

Followers


Name :
Web URL :
Message :

Recent Posts